Many 2 Many…. Many 2 Many…., sekarang masih mewabah. Konsep marketing yang sudah dicanangkan ini menjadi topik pembicaraan dimana-mana, walaupun sebenarnya bukanlah hal yang baru dan sudah banyak berlaku di kalangan masyarakat. Tapi itulah sebuah kekuatan marketing, kita berikan applause untuk sang penghembus konsep Many 2 Many, yang dapat memberikan dorongan orang lain untuk berpaling kepadanya.
Berangkat dari komunitas, bergeraklah konsep ini. Karena memang banyak yang dapat kita perbuat dari komunitas yang ada di masyarakat. Begitu banyak komunitas, mulai dari high level sampai low level. Tapi ada satu hal yang merupakan kesamaan dari sekian banyak komunitas. Setiap komunitas pasti mempunyai loyalitas dan gengsi atau harga diri komunitasnya. Mereka akan cenderung mempertahankan gengsi-nya dengan segala daya upaya.
Nah, kesamaan ini merupakan peluang kita untuk memasukkan produk kita di dunia komunitas ini dengan cara yang beragam. Salah satu caranya, kita coba singgung gengsi dari masing-masing komunitas tersebut dan coba kita munculkan rasa bersaing antar komunitas yang kita ikat dalam satu brand produk. Dalam kata lain….. “Many Vs Many”, komunitas kita lawankan dengan komunitas dalam artian yang positif. Contoh yang paling gampang adalah Komunitas Sekolah. Ada berapa banyak Sekolahan berdasarkan levelnya?? Bayangkan begitu banyak Sekolah yang tersebar di seantero Nusantara. Coba kita kumpulkan mereka dalam satu event yang dapat menggerakkan mereka untuk berkompetisi yang berkaitan dengan dunianya. Seperti Event Cepat-Tepat Online yang diikat dengan produk internet powered by Speedy yang akan menelorkan Jawara antar komunitas… yang pasti dengan Prize yang menarik. Dan masih banyak lagi pendekatan lainnya yang bisa dimainkan pada “Many vs Many”.
Hem… akhir kata, Tak ada gading yang tak retak. Masih banyak kekurangan dalam penulisan ini dan jauh dari sempurna. Hal ini hanyalah wujud dari penuangan ide yang mungkin bisa bermanfaat bagi siapapun yang membaca. Wassalam.
Ada karakter pengguna jasa telekomunikasi yang tidak mau repot, misalnya tidak mau repot dalam hal penggunaan pulsanya yang harus bolak balik diisi (pra bayar) maka pengguna tersebut lebih cocok menggunakan produk pasca bayar (berlangganan) dengan cukup hanya repot 1 kali dalam sebulan.
Ketika cinta sudah bicara, maka hati akan melekat disana. Ketika cinta sudah mulai hilang di dalam dunia bisnis, maka “menjual” dengan menggunakan perasaan cinta akan lebih mudah untuk menangkap hati konsumen.
Seperti kata Peter Drucker, “Bisnis memiliki dua –hanya dua–fungsi dasar: pemasaran dan inovasi. Pemasaran dan inovasi memberikan hasil, selebihnya adalah biaya-biaya.” Artinya, formula kemenangan (yang digunakan Sony, 3M dan Pfizer) = Inovasi Luar Biasa + Pemasaran Luar Biasa. Inovasi bukan sekedar berkutat dengan penciptaan produk yang baru dan lebih baik, tetapi juga pengembangan sistem yang lebih baik dan konsep bisnis yang baru.
Panggil saja aku